Susun Program Kerja, SMA Negeri 3 Mojokerto Hadirkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Mojokerto

Mojokerto – Mengawai tahun pembelajaran 2021/2022, SMA Negeri 3 Mojokerto pada selasa (27/07/21) menggelar Workshop review KTSP, menyusun program kerja dan pengembangan strategi pembelajaran dengan menghadirkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Mojokerto, Kresna Herlambang.

Kepala SMA Negeri 3 Mojokerto, Drs. Nurhidayat M.M.Pd menyatakan bahwa persiapan untuk pembelajaran daring yang diterapkan dalam pembelajaran tahun ajaran baru di SMA Negeri perlu persiapan dengan matang. Selain pembelajaran daring, juga pembelajaran dengan tatap muka terbatas akan diterapkan sesuai dengan kondisi yang memungkinkan.

“Di SMA Negeri 3, sebelum pandemi naik, juga sudah menerapkan pembelajaran tatap muka tak terbatas, sesuai dengan hasil studi banding sekolah sekolah yang menerapkan. Namun ketika pandemi naik, maka pembelajaran full daring hingga saat ini” terang Drs. Nurhidayat M.M.Pd

Tidak menutup kemungkinan, masih kata Kepala SMA Negeri 3 Mojokerto itu, akan diterapkan pembelajaran tatap muka terbatas lagi. Hal ini bergantung pada situasi dan kondisi.

Menanggapi pernyataan Drs. Nurhidayat M.M.Pd, Kresna Herlambang, M.Pd, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Mojokerto menyampaikan sangat memahami situasi dan kondisi yang dialami oleh SMA Negeri 3 Mojokerto. Hal ini juga dialami sendiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Mojokerto yang mengajukan pembelajaran tatap muka kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, tetapi belum ada tanggapan. Hal ini juga dikarenakan situasi dan kondisi. Lebih lebih dengan diberlakukannya PPKM yang diperpanjang.

“Betapa beratnya yang dialami dunia pendidikan. Untuk belajar, anak anak harus mau tidak mau dengan daring. Tapi mau tidak mau, ini tuntutan. Sebab kita tidak tahu kapan berakhirnya covid 19 ini” terang Kresna Herlambang.

Meskipun demikian, tidak menjadikan sekolah berhenti untuk bergerak. Seperti penyelenggaraan workshop yang digelar oleh SMA Negeri 3 Mojokerto, adalah bentuk kegiatan yang bagus menyusun program kerja. Lebih lebih dengan melibatkan stake holder, seperti komite sekolah. Kresna Herlambang berpesan, agar dalam penyusunan program kerja, harus menargetkan peningkatan kualitas pendidikan.

Program kerja harus disesuaikan dengan program kerja Menteri Pendidikan dengan Assesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survey Karakter dan Survey Lingkungan Belajar. Assesmen Kompetensi Minimum menekankan pada literasi membaca dan literasi angka. Literasi membaca tidak sekadar memiliki kemampuan membaca saja, tetapi mampu memahami konsep dibalik bacaan.

Sedang Survey Karakter, siswa dituntut untuk memiliki indikasi enam karakter yang dikenal dengan pelajar Pancasila. Indikator dari karakter pelajar Pancasila itu adalah berakhlak mulia, kreativitas, gotong royong, kebhinekaan global, bernalar kritis dan kemandirian.

Pesan terakhir dari Kresna Herlambang, bahwa ia ingin pendidikan di Mojokerto tetap maju dan berkembang walaupun kelak, ia sudah tidak memimpin lagi menjadi Kepala Cabang dinas Pendidikan Mojokerto.

“Sebelum saya buka workshop ini, sekalian saya pamit, bulan agustus saya akan purna. Tetapi jangan sampai silaturahmi kita terputus” ucap Kresna Herlambang M.Pd.

Read More
sman3mjkrt Juli 27, 2021 0 Comments

A Filmmaker The Pride SMAGHA 24′

Namanya Wahyuddin Hasani Widodo. Alumnus SMA Negeri 3 Mojokerto pada tahun 2017. Ia meraih prestasi gemilang dalam Outstanding Achievement Awards 19th Seasons World Film Carnival untuk kategori short films dan silent film di Singapura. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi warga Mojokerto khususnya keluarga besar SMA Negeri 3 Mojokerto.

Laki-laki kelahiran Malang pada 12 Juli 1999 ini mengaku, bahwa ia mengenal dunia perfilman saat ia menjadi anggota sekbid 9 OSIS SMA Negeri 3 Mojokerto. Pada waktu menjadi anggota sekbid 9 OSIS SMA Negeri 3 Mojokerto ini, ia mengikuti beberapa workshop film. Sehingga ia kemudian terinspirasi membuat film karya ia sendiri. Film film karyanya yang berhasil dibuat saat masih duduk dibangku SMA adalah Eskpresi saya hari ini. Dari kompetensinya ini, mengantarkan Wahyu bersama rekannya, Indra dan Nafi, ditunjuk untuk mewakili Kota Mojokerto pada ajang FLS2N 2018 ke tingkat provinsi. Pengalamannya semakin bertambah saat mereka juga mengikuti festival film di Surabaya dan karyanya berhasil menjadi 3 karya terbaik.

CINEMA WITHOUT MAGIC” adalah film yang membuat nama Wahyu semakin besar karena karyanya yang satu ini merupakan film yang menang dalam ajang bergengsi di Singapura (19th Seasons World Film Carnival). Alasan ia mengambil judul Cinema Without Magic ini adalah dunia digitalisasi yang semakin canggih tak terbatas oleh ruang menjadikan daya kontrol film sekarang terletak pada penonton bukan magic dari para filmmaker.

Tentang kesuksesannya menjadi filmmaker, Wahyu mengaku, tidak bisa dilepaskan dari sosok guru yang sangat telaten mendampingi ia dalam berkarya. Guru tersebut adalah Inuk Wijayati Ningsih S.Pd.

“ Tahun 2016 menjadi tahun yang emosional bagi saya, tahun dimana saya untuk pertama kalinya mengenal sinema dan segala hal di dalamnya, mungkin jika di tahun itu bu Inuk Wijayati Ningsih tidak menemukan saya dan potensi saya entah sekarang saya melanjutkan studi dimana, karena secara akademis juga tidak bisa diandalkan” Kenang Wahyu.

Wahyu berpesan kepada sobat-sobat SMAN 3 Kota Mojokerto, agar di era digitial, harus memiliki pola pikir terbuka dan memanfaatkan teknologi serta menggali potensi diri yang menjadi passion,

“Di era digital yang serba mudah ini, pola pikir kalian semua harus semakin terbuka dan memanfaatkan teknologi dengan sebaik mungkin terutama dalam menentukan passion dan carrier.”

(Eviolina Tiara A)

Read More
sman3mjkrt Juli 13, 2021 0 Comments