Perempuan Inovatif dan Kebudayaan Digital

Perempuan ini terbilang paling muda jika dibandingkan dengan sederet budayawan lainnya. Umurnya masih 23 tahun, sedang budayawan lainnya, yang menggeluti dunia kebudayaan hampir rata rata sudah berumur. Seperti sosok budayawan multitalenta, yang akrab dipanggil Gus Mus, kini ia sudah menginjak umur 77 tahun. Begitupun dengan Emha Ainun Nadjib, Sujiwo Tedjo, KH. Zawawi Imron, Butet Kertaradjasa dan lain lain. Hampir semua tokoh budayawan itu sudah berumur tua.

Budayawan muda ini, terlahir pada 13 Februari 1998 yang bertempat di Kota Tebing Tinggi. Ia memiliki nama lengkap Cyntia Handy, kerap dipanggil Cyntia. Ia pindah ke Kota Mojokerto sejak berada di bangku SMP. Usai dari SMP TNH, ia ke SMA TNH. Dan menyelesaikan pendidikan sarajananya di S1 Psikologi Universitas Surabaya.

Cintya, sejak remaja sudah akrab dengan dunia kebudayaan. Meskipun ia tidak tergabung secara langsung, tetapi  sudah melakukan komunikasi dengan banyak komunitas untuk membangun dunia kebudayaan. Waktu kuliah, ia tergabung secara langsung dengan kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan, seperti menjadi duta wisata provinsi Jawa Timur.

Pengalaman dan pengetahuan yang mendalam tentang kebudayaan, menghantarkannya ia diamanahi untuk menjadi direktur di Museum Gubug wayang. Padahal kala ia menjadi direktur Museum Gubug Wayang, ia belum menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Tentang hobynya menggeluti dunia kebudayaan, perempuan cantik ini, menuturkan bahwa ia sebenarnya tidak mempunyai bakat di bidang kesenian dan kebudayaan, tetapi mempunyai minat untuk pengembangan budaya lebih populer di masyarakat agar banyak yang aktif di dunia kebudayaan.

“Motivasi saya menekuni kebudayaan, agar dapat menjadikan kebudayaan sebagai ruang yang menarik bagi anak-anak bahkan membangun stigma bahwa kebudayaan dapat menjadi industri tersendiri,” tutur perempuan ini dalam menjelaskan motivasinya memasuki dunia kebudayaan.

Lebih jauh, sambil membetulkan posisi duduknya, Cyntia menjelaskan, agar kebudayaan bisa menjadi hal yang menarik bagi anak anak, maka ia memberikan konsep yang selama ini digelutinya di Museum Gubung Wayang.

Di Museum Gubug Wayang, selama pandemi ini, membuat inovasi dengan menampilkan sisi-sisi kebudayaan sebagai edukasi bagi masyarakat. Melalui media youtubenya yang bernama “Gubug Inovatif”, mereka membuat beberapa video yang menayangkan beberapa tarian tradisional seperti tari bajidor kahot, tari pendet, tari muang sangkal, tari zapin mandilingan, tari jejer jaran dhawuk, tari banjar kemuning, tari lenggang Surabaya, tari remo jombangan, tari mojang priangan, tari mayang rontek, dan tari bondan.

Tidak sekadar menampilkan tarian tradisional, di youtube “Gubug Inovatif” juga mengenalkan dunia keris. Seperti mengenal dasar-dasar tombak totog, mengenal wedung ron kenduru, mengenal keris brojol tubanan, mengenal keris leres mojopahit pamor ceprit, mengenal dasar-dasar keris pendowo uler lulut, mengenal wedung lawe saukel, mengenal keris kulit semongko era Tuban, mengenal kapak pethik, serta mengenal keris leres slewah.

Untuk mengenalkan wayang, dengan inovasi digital, “Gubug Inovatif” menayangkan beberapa dongeng yang menggunakan media wayang yang merupakan koleksi Museum Gubug Wayang. Seperti dongeng kancil dan buaya, dongeng kancil dan kerbau yang angkuh, dan dongeng kancil mencuri ketimun.

Pertunjukan wayang, meskipun menggunakan bahasa jawa, bahasanya tidak terlalu rumit untuk dimengerti. Juga disediakan subtitle berbahasa indonesia sehingga semua orang bisa mengerti dialog selama pertunjukan.

“Dunia kebudayaan saat ini harus mengikuti perkembangan era digitalisasi agar menarik minat remaja untuk menggandrungi dunia kebudayaan, karena itu juga salah satu cara agar kebudayaan tidak sirna di mata masyarakat.” tuturnya.

kebudayaan Indonesia, kata Cintya, memiliki potensi untuk mendatangkan dampak positif yang sangat beragam mulai dari sosial hingga ekonomi. Kebudayaan juga intisari dari ekonomi kreatif. Museum adalah awal yang tepat untuk menciptakan ekosistem bahwa budaya adalah sebuah industri yang menjanjikan bagi masa depan.

“Perlu waktu dalam mewujudkannya, tetapi ini adalah sebuah kepastian dalam hal potensi dan kemungkinan terwujudnya, tinggal sejauh mana gotong royong dalam mewujudkannya. Sebab budaya tidak berbicara tentang aku, tetapi berbicara tentang kita,” tambahnya.

Dunia kebudayaan saat ini harus menyetarakan dengan perkembangan zaman, karena untuk meningkatkan minat masyarakat dengan dunia kebudayaan, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan digitalisasi. Di akhir wawancara budayawan ini memiliki pesan kepada generasi muda,

“keadaannya saat ini juga dikarenakan kurangnya anak muda di ruang kebudayaan. Maka dari itu mari kita hadir untuk juga dapat mengangkat pemajuan kebudayaan berkelanjutan.”tutupnya.

Penulis : Putri Luthfia Nazhiifah

Read More
sman3mjkrt Agustus 31, 2021 0 Comments

Gus Yudi sang Pejuang Kesenian Jaranan di Bumi Majapahit

Yudi Indramawan atau yang akrab disapa Gus Yudi ini merupakan seorang budayawan yang aktif di bidang seni dan budaya. Keikutsertaan secara aktif dalam bidang seni dan budaya inilah yang membuat ia diangkat sebagai wakil ketua dewan adat Mojokerto saat ini. Nama panggilan Gus Yudi ternyata bukanlah nama yang tidak disengaja, namun nama ini merupakan nama pemberian dari Jendral Purnawiranto yang kemudian ditirukan oleh orang terdekatnya hingga masyarakat yang mengenal dirinya.

Budayawan yang lahir di Surabaya pada tahun 1975 ini memiliki 5 orang anak. Ia bersama istri dan 5 anaknya saat ini tinggal di Balongkrai, Kota Mojokerto.

Pertemuan saya dan Gus Yudi berawal dari ketertarikan saya mengenai sosok yang sering muncul dalam grup kesenian yang sempat menjadi grup kesenian jaranan favorit saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Walaupun ia merupakan salah satu orang yang mampu membuat penasaran, namun saya tetap merasa takut dengan penampilannya. Ia berpenampilan seperti seorang dukun, yaitu lengkap dengan baju hitam dan udeng serta rambut gondrong andalannya. Penampilan yang aneh dan sangar memperkuat kesan menakutkan untuk anak umur 10 tahun kala itu. Ternyata tanpa saya sadari seiring berjalannya waktu saat saya duduk di bangku SMA, saya dihadapkan dengan salah satu perlombaan yang berhubungan dengan seorang budayawan. Sehingga berkat perlombaan ini saya dapat mewujudkan keinginan yang sudah lama  terpendam.

Waktu yang telah saya nantikan telah datang, hari ini saya pergi ke rumah Gus Yudi diantar oleh ayah. Setelah sampai di rumahnya saya langsung dihadapkan dengan kedai kopi yang tak terlalu besar berada tepat di depan rumah Gus Yudi. Suasana kedai kopi saat itu memang agak ramai karena saya datang tepat di malam sabtu, sehingga banyak orang yang sedang berkunjung ke kedai kopi maupun sedang menunggu giliran untuk diberikan terapi oleh Gus Yudi.

Ketika saya tiba dirumah Gus Yudi saya mencium aroma dupa dan kemenyan yang sangat menyengat, aroma dupa dan kemenyan tersebut seolah menjadi ciri khas rumah budayawan terutama dalam kesenian jaranan. Tepat ketika saya masuk pertama kali saya dihadapkan dengan patung macan putih yang berdiri gagah di ruang tamu, agak sedikit menyeramkan untuk masuk ke rumahnya meskipun hanya di ruang tamunya saja.

Saya mulai memperhatikan satu persatu sisi ruang tamu. Di dinding berjejer rapi foto-foto Gus Yudi bersama dengan orang-orang hebat seperti, Walikota Mojokerto. Dan tak lupa pula fotonya ketika sedang mendapatkan penghargaan. Dari semua dinding perhatian saya terfokus hanya kepada satu tulisan yang berlafazkan nama Allah. Seketika pandangan saya berubah dan mulai agak sedikit tenang berada di dalam ruangan tersebut. Tak lupa di mejanya terdapat dupa dan beberapa peralatan seperti kendi, namun anehnya peralatan itu berada tepat di depan tulisan berlafaz nama Allah. Akhirnya waktu yang saya tunggu-tunggu pun datang, beliau masuk ke ruang tamu dan menemui saya untuk bersedia diwawancarai. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan satu persatu.

Ketika saya mulai bertanya mengenai kisah awal mula ia memutuskan untuk menjadi seorang budayawan, terkuak fakta ternyata beliau dulu merupakan seorang yang dholim. Menurut penuturannya, ia mengaku pernah menjadi seorang pemabuk dan pengguna narkoba. Namun, seiring berjalannya waktu ia menyadari dan memutuskan untuk berubah. Singkat cerita, Gus Yudi berkelana dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain untuk mencari ilmu dan sharing dengan para kyai yang membuat akhirnya ia berubah dan memutuskan untuk mendirikan grup kesenian jaranan yang bernama “Eyang Macan Putih”.

Grup Kesenian Eyang Macan Putih ini sendiri berdiri pada tanggal 25 Februari 2009. Sesuai namanya, grup kesenian ini mempunyai lambang macan putih sebagai ciri khasnya. Hal ini nampak pada setiap pernak-pernik bahkan banner yang terpampang seringkali terdapat gambar macan putih sebagai suatu ciri khas yang selalu ada. Di grup kesenian ini selain turut dalam acara kebudayaan seperti Ruwatan dan Suroan, ternyata setiap hari Senin dan Kamis Gus Yudi menggelar acara doa bersama yang ditujukan untuk keluarga dan seluruh umat di nusantara. Selain itu, acara doa bersama digelar agar pandemi Covid-19 segera diangkat dari muka bumi. Acara doa bersama ini dibuka untuk umum terutama para pemuda, sehingga dapat menjadi kegiatan positif bagi mereka.

Namun tak sangka ternyata niat baik Gus Yudi yang ingin melestarikan kebudayaan mendapat penolakan dari warga setempat karena warga setempat menganggap bahwasannya jaranan merupakan kesenian yang identik dengan ilmu hitam dan ilmu sesat. Tapi penolakan itu nyatanya tidak dapat menghilangkan semangat seorang Gus Yudi dalam melestarikan kebudayaan jaranan sekaligus pembuktian bahwa kesenian jaranan tidak identik dengn ilmu hitam dan ilmu sesat. Gus yudi menganggap bahwasannya penolakan itu merupakan cambuk agar beliau lebih bersemangat lagi untuk melestarikan kebudayaan jaranan yang sudah mulai punah.

Ternyata semangat Gus Yudi tidak sampai disitu saja, ia berangkat ke Jombang untuk belajar dan kemudian disitulah awal ia bertemu dengan pihak Perdana Record yang kemudian sering meliput penampilan jaranan yang dibawakan oleh grup keseniannya sendiri yaitu Grup Kesenian Eyang Macan Putih. Berkat Tim Perdana Record itulah kesenian jaranan milik Gus Yudi mulai diketahui banyak orang dan membuat kesenian tersebut menjadi ramai peminat.

Alasan Gus Yudi ingin menjadi seorang budayawan yaitu karena timbulnya rasa cinta akan tanah air sebagaimana kesadaran sebagai generasi penerus bangsa yang membuat ia ingin melestarikan salah satu kebudayaan Indonesia yaitu Kesenian Jaranan. Berdirinya kesenian ini pula sebagai bentuk harapan bahwasannya agar kedepannya kesenian ini ada yang meneruskan sehingga tidak akan punah. Ia juga mengatakan dengan tegas bahwa, “Kalau bukan kita, siapa lagi?” Kalimat yang kemudian membuat saya terharu karena melihat semangat beliau yang sungguh luar biasa.

Hal menarik yang mencuri perhatian saya yaitu ketika Gus Yudi menceritakan bahwasannya selain menjadi dewan adat di Mojokerto beliau juga turut bergabung dalam Badan Penanggulangan Kenakalan Remaja. Bahkan beliau menunjukkan fotonya bersama Jendral Almandepari seorang pemberantas narkoba. Masa lalu beliau menjadi seorang pengguna narkoba inilah yang kemudian menjadi alasan besar mengapa ia turut tergabung dalam Badan Penanggulangan Kenakalan Remaja.

Cerita Gus Yudi di masa pandemi ini pun tidak kalah menarik. Seperti yang kita lihat pandemi telah membekukan sebagian aktivitas yang seharusnya boleh dilakukan saat sebelum pandemi, kini pada saat pendemi tidak diperbolehkan. Hal ini pun juga dirasakan oleh Gus Yudi dimana yang biasanya setiap ada hajatan ia selalu mendapat kesempatan tampil untuk mengisi acara, namun saat ini tidak diperbolehkan. Karena terlalu lama masa pandemi ini menjangkit Indonesia, ia mengeluhkan tentang peralatan untuk tampil banyak yang telah rusak. Bahkan harus membuang beberapa alat terutama Reog, yang menurutnya sangat sulit untuk dirawat. Sehingga yang dahulu ada 3 buah Reog sekarang tersisa hanya 2 buah Reog saja. Selain itu beberapa alat musik gamelan miliknya sudah mulai keropos terutama alat yang terbuat dari bahan kayu dan tembaga, kerusakan itu terjadi dikarenakan sudah terlalu lama tidak terpakai. Beberapa alat kesenian tersebut memang mahal harganya terutama pada saat ini yang jarang sekali ditemukan, sehingga sebisa mungkin selalu dibersihkan agar tetap bisa digunakan kembali. Namun jika telah sepenuhnya rusak maka tetap harus dibuang karena sudah tidak dapat dipakai kembali.

Nampak jelas bagaimana ekspresi Gus Yudi saat bercerita, ia sangat rindu sekali ketika ia bisa tampil langsung di lapangan dengan ditonton ratusan bahkan ribuan masyarakat. Terlepas dari itu nasib para anggotanya harus pula dipikirkan, beberapa dari mereka pasti menggantungkan hidupnya dari kesenian tersebut. Sehingga Gus Yudi dibantu oleh temannya pemilik usaha Coklat Majapahit untuk memberikan pekerjaan kepada para anggota yang ingin bekerja. Mereka akan diberikan gerobak dan modal untuk berjualan Coklat Majapahit. Sedangkan ia sendiri masih aktif bekerja sebagai terapis pengobatan alternatif. Sebelumnya Gus Yudi menuturkan kepada saya bahwa ia tidak menganggap pelestarian kesenian ini merupakan sebuah mata pencaharian, namun sebuah bentuk pengabdiannya terhadap tanah air dengan melestarikan Kesenian Jaranan.

Selain mengingatkan kepada para generasi muda untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia, tak lupa Gus Yudi juga menyampaikan bahwasannya harus tetap patuh kepada protokol kesehatan dan anjuran pemerintah.

Di Masa pandemi ini tidak hanya para pelaku bisnis saja yang terkena dampaknya namun para pejuang budayawan pun terkena dampaknya. Sosok Gus Yudi merupakan cerminan seorang pejuang budayawan yang turut mengabdi terhadap kebudayaan Indonesia yaitu Kesenian Jaranan. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda turut bangga dan ikut melestarikan kebudayaan walaupun hanya dengan cara mendukung pelestarian kebudayaan yang ada di Indonesia. Tidak sampai disitu saja, Gus Yudi juga berpesan penampilan seseorang tidak mencerminkan karakternya. Penampilan diibaratkan sebagai casing HP yang cukup menarik namun kenyataanya casing tidak menjamin bahwa HP tersebut juga bagus. Oleh karena itu, kita sebagai manusia tidak boleh memandang rendah sesuatu karena penampilan yang kurang anda sukai.

FAIS SOEMARNO PUTRI

Read More
sman3mjkrt Agustus 29, 2021 0 Comments

Diajeng Lailatul Sofya, Pemenang Harapan 1 Lomba Pidato Bung Karno

Namanya Diajeng Lailatul Sofya. Sesuai namanya, ia memiliki paras yang cantik dan juga berprestasi. Ia berhasil meraih juara harapan satu di ajang pidato Bung Karno yang diadakan UPT Perpustakan Proklamator Bung Karno dari kategori Pelajar SMA/MA/SMK se-Jawa Timur. Lomba pidato Bung Karno ini diadakan secara online. Meskipun dilaksanakan secara online, Diajeng tetap menampilkan performa yang maksimal dan berhasil memikat para juri.

Gadis kelahiran Mojokerto tahun 2004 ini merupakan salah satu pelajar SMAN 3 yang banyak menuai prestasi. Diajeng terpilih untuk mengikuti  lomba pidato Bung Karno atas rekomendasi dari Bapak Zainal dan dibimbing oleh Ibu Inuk selaku guru Bahasa Indonesia SMAN 3 Mojokerto.

“Awalnya saya direkomendasikan oleh Pak Zainal untuk mengikuti lomba tersebut, lalu saya menghubungi Bu Inuk sebagai pembimbing dan mulai membuat teks pidato. Awalnya ada kendala yaitu ketentuan dari teks pidato adalah 1000-1500 kata, tapi saya malah membuat hanya 400 kata. Di situ atas bimbingan dari Bu Inuk akhirnya naskahnya bisa selesai lalu latihan dan Allhamdulillah lolos ke-10 besar. Nah, lombanya kan secara online tetapi untuk yang berhasil masuk ke-10 besar dilombakan lagi secara offline di Blitar. Waktu itu saya menginap semalam dan saya berangkat bersama Bu Laura karena waktu itu Bu Inuk ada urusan sehingga tidak bisa mendampingi saya di Blitar,” tutur Diajeng.

Pastinnya prestasi Diajeng sangat membanggakan. Tak lepas dari usahanya dalam meraih sesuatu, gadis cantik ini dikenal pantang menyerah dan kerja keras sehingga berhasil membawa juara harapan satu lomba pidato Bung karno tahun 2021 jenjang SMA/MA/SMK se-Jawa Timur.

“Pastinya saya sangat senang ya saat saya tahu masuk 10 besar itu. Kemudian saya langsung konfirmasi ke Bu inuk dan ternyata benar saya masuk 10 besar. Untuk persiapan ke Blitar itu sangat singkat dan saya bisa melewati nya. Waktu di sana saya grogi. Grogi itu pasti karena di sana kan offline, jadi harus tampil satu kali berbeda dengan sebelumnya yang online bisa take berulang kali. Ya di situ saya grogi dan ternyata saya mendapat juara harapan satu,” jelas Diajeng.

Prestasi Diajeng ini mengharumkan nama SMAGA dan bisa memotivasi teman-teman lainnya untuk mengikuti jejak Diajeng.

“Untuk teman-teman yang lain semangat dalam mengerjakan sesuatu jangan pantang menyerah dan juga tetaplah berkarya,” pesan Diajeng.

Read More
sman3mjkrt Agustus 25, 2021 0 Comments

Tasya, Siswi SMAGHA Yang Menjadi Pasukan Paskibraka Jawa Timur

“Peluang tidak terjadi. Kamu membuatnya.” Kalimat mutiara yang diucapkan oleh Chris Grosser sangat cocok dengan cerita siswi smaga yang satu ini. Bagi sebagian orang tahun 2021 menjadi masa-masa yang kelam, karena pandemi merajalela, PPKM yang tidak berkesudahan, pengangguran merajalela dan lain lain.

Namun bagi gadis manis yang memiliki rambut sebahu, tahun ini sangat berarti baginya. Karena ia telah torehkan sejarah baru di hidupnya. Ia menjadi salah satu Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA) pada peringataan Hari Kemerdekaan Ke-76 Republik Indonesia mewakili Kota Mojokerto tercinta. Siswi itu bernama Natasya Alifia.

Natasya Alifia atau yang kerap dipanggil Tasya menjadi kebanggaan SMAGA Mojokerto karena keberhasilannya dalam meraih salah satu impian banyak anggota PASKIBRAKA lain yaitu menjadi PASKIBRAKA PROVINSI JAWA TIMUR 2021 dan diakui oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporapar) Kota Mojokerto sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Kisah gadis manis yang sedang duduk di bangku kelas XI MIPA 4 Tahun Ajaran 2021/2022 sampai menjadi perwakilan Kota Mojokerto berawal dari keikutsertaannya pada ekstrakurikuler PASKIBRA SMAN 3 KOTA MOJOKERTO. Ekstrakurikuler PASKIBRA di SMAGA memiliki nama Pasukan Khas 03 atau yang biasa dikenal sebagai PASKHAS 03. Tasya merupakan siwi yang sangat rajin mengikuti latihan paskibra di ekskulnya. Beberapa bulan sebelum hari kemerdekaan, Tasya mendapatkan informasi mengenai seleksi perwakilan kota anggota PASKIBRA PROVINSI. Setelah memenuhi semua persyaratan yang ada, berkedok minat dan bakat ia mengikuti seleksi perwakilan anggota PASKIBRA di Gelora A. Yani.

Banyak hal yang telah dilalui Tasya ketika mengikuti seleksi PASKIBRAKA PROVINSI JATIM 2021. Ia harus berjuang keras dalam mengikuti setiap tahapan seleksi yang dilakukan mulai dari test tulis, test samapta, test wawancara wawasan kebangsaan, test wawancara budaya Kota Mojokerto, dan test wawancara Bahasa Inggris. Jatuh dan bangun menjadi santapan Tasya tiap harinya ketika ia mengikuti seleksi ini. Tetesan keringat berharganya terbayar lunas saat diumumkan bahwa Nastasya Alifia terpilih menjadi PASKIBRAKA PROVINSI JAWA TIMUR 2021 pada bulan Mei lalu. Tasya tak kuasa menahan air matanya untuk jatuh mengikuti lugurnya rasa letih setelah ia berjuang begitu keras. Perasaan bahagia dan bangga tak hanya muncul dalam hati gadis kelahiran 2004 ini, namun juga ikut dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

“Untuk teman-teman SMAN 3 KOTA MOJOKERTO yang Tasya sayang, aku berpesan agar kalian memiliki semangat yang sama denganku bahkan lebih besar dari rasa semangatku dalam meraih cita-cita demi prestasi yang membanggakan. Setiap perjuangan yang kita lakukan, sekeras apapun itu pasti memberikan hikmah tersendiri dalam hidup kita masing-masing. Jangan pernah patah semanagat dan lakukan semua hal yang membuat kalian bahagia. Keikhlasan adalah salah satu kunci kesuksesan. Buang jauh-jauh sifat mudah mengeluh dalam setiap usaha yang kalian lakukan.” ucap Natasya Alifia 2021.

Hingga kini Tasya dan senyum ayu-nya masih menjadi ikon sekolah yang akan selalu diingat dan dibanggakan.

@eviolinatiara

Read More
sman3mjkrt Agustus 25, 2021 0 Comments

Peringati HUT RI ke 76, OSIS SMA Negeri 3 Mojokerto Gelar Lomba Secara Online

Mojokerto – Memperingati HUT RI ke 76, OSIS SMA Negeri 3 Mojokerto menggelar tiga lomba yang diikuti oleh seluruh siswa. Diantaranya lomba yang dikompetisikan yakni Solo Vocal, Puisi dan Poster Kemerdekaan.

Tiga lomba ini, menurut Riska, Ketua OSIS SMA Negeri 3 Mojokerto, dilakukan secara online. Hanya saja, pada sesi final, dilaksanakan secara ofline.

“Kita menggelar tiga lomba, yaitu solo Vocal, puisi dan poster. Semua dilakukan secara online. Hanya saat final dilakukan secara ofline” terangnya.

Pada sesi final yang dilaksanakan pada Senin hari (16/8/21), para finalis berlaga dengan ketat. Menurut Inuk Wijayati S.Pd, juri baca puisi, banyak peserta finalis menampilkan kemampuannya dengan sangat bagus. Sehingga juri bingung untuk memilih. Namun karena harus menentukan juaranya, maka harus dipilih yang terbaik diantara terbaik.

“Banyak peserta memiliki kualitas yang bagus. Tetapi kita harus memilih untuk menentukan juaranya” terangnya.

Tentang pelaksanaan lomba HUT RI ke 76 ini, Drs. Nurhidayat M.M.Pd, Kepala SMA Negeri 3 Mojokerto menyampaikan rasa bangganya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Selama ini, Sekolah belum memiliki pola untuk menyelenggarakan kegiatan selama masa pandemi. Dan dengan diselenggarakannya kegiatan lomba yang memadukan antara online dan ofline, maka program kerja bisa digelar.

Kepala SMA Negeri 3 Mojokerto itu berharap dengan kompetisi ini, bisa menghasilkan siswa yang memiliki bakat terpendam mampu tampil meraih prestasi, sehingga kejayaan SMA Negeri 3 kembali berkibar.

“Dengan adanya lomba ini, saya berharap anak anak yang memiliki bakat terpendam, bisa menyalurkan bakatnya untuk meraih prestasi. Sehingga kelak kejayaan SMA Negeri 3 Mojokerto bisa kembali lagi berjaya” harapnya.

Pengumuman pemenang lomba HUT RI ke 76 ini, akan diumumkan usai semua dewan juri menilai dan akan diberikan hadiah berupa uang pembinaan dan sertifikat. (Is)

Read More
sman3mjkrt Agustus 16, 2021 0 Comments