Resensi Novel “Gadis Penghafal Ayat”

Judul buku                  : Gadis Penghafal Ayat

Penulis                        : M. Shoim Haris

Penerbit                       : Cupid, Yogyakarta

Tahun terbit                : Cetakan pertama, 2012

Jumlah halaman          : 296 halaman

Desain Cover              : Su’ud

Tata letak                    : Prapti

Tebal buku                  : 2,0 cm

Ukuran buku               : 14,0 x 20,0 cm

Nomor ISBN              : 979-2495-02-9

                                      978-979-2495-02-7

Penulis novel ini tidak hanya menceritakan tentang lingkup kehidupan gadis penghafal ayat tetapi juga menceritakan lingkup kehidupan pesantren dan menceritakan keadaan kehidupan pada masa reformasi.

Seorang  gadis penghafal ayat  bernama lai  saat itu usianya menginjak 18 tahun, ia merupakan anak kyai yang  mempunyai amanah untuk menjadi pewaris pesantren tetapi ia memiliki keinginan yang cukup tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, meskipun belum mendapatkan restu dari orang tuanya untuk mewujudkan keinginannya tidak ada kata putus di kamus hidupnya, lai tetap bersemangat, berdoa, dan berusaha untuk mewujudkan keinginannya agar medapatkan restu dari orang tua. Lantas bagaimana kelanjutan tentang pencapaian keinginan lai? Apa yang sebenarnya penyebab orang tua lai tidak merestui? Dan bagaimana kehidupan pada masa reformasi.

Novel ‘Gadis Penghafal Ayat’ membuat para pembaca terinspirasi dengan lai yang selalu mempelajari sejarah karena ia menyadari adanya keterkaitan kehidupan manusia dengan waktu masa lalu, apa yang terjadi pada masa sekarang dan apa yang terjadi pada masa yang akan datang.

Kelemahan Novel ini, penulis sering menggunakan bahasa Jawa, bahasa Inggris, dan bahasa Arab tanpa ada terjemahan sehingga pembaca kurang mengerti.

Akhir dari novel ini juga masih kurang jelas karena membuat para pembaca tidak diberi kepastian untuk akhir cerita dan novel ini menurut saya kurang ada keterkaitan dengan judul.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk semua orang khususnya kalangan remaja tetapi tidak disarankan untuk anak dibawah umur karena ada bagian yang mengandung unsur dewasa. Tujuan pembaca novel ini agar mereka mengetahui tentang sejarah dunia, Islam, dan Indonesia. (Putri)

Read More
sman3mjkrt Januari 4, 2021 0 Comments

Para Nabi Pun Adalah Sang Penggembala

Judul         : Sang Penggembala

Nama Penulis  : Muhammad Isno El Kayyis

Nama Penerbit  : Penerbit Pintukata

Tahun Penerbit  : 2014

Tahun Cetakan  : 2014

Jumlah Halaman : 403 halaman

Nomor Edisi    : ISBN 978-602-14786-1-5

Tak hanya menjadi seorang penulis novel yang inspiratif, Muhammad Isno El Kayyis juga menjadi seorang pengajar, penasehat, dan pengawas. Salah satu judul karya novelnya yang paling menginspirasi bagi saya adalah “Sang Penggembala”. Dalam karyanya tersebut menceritakan tentang kisah seorang pemuda desa, Rizal namanya. Ia merupakan seorang penggembala yang sangat gigih dan penuh perjuangan demi kemajuan desanya. Menjadi penggembala adalah sebuah pendadaran yang penuh dengan nilai-nilai kepemimpinan dan solidaritas.

Novel “Sang Penggembala” merupakan gambaran dari kearifan desa. Mengisahkan tentang seorang penggembala Dusun Sayun yang bernama Rizal sebagai tokoh utamanya. Ia bukan hanya seorang penggembala, melainkan juga tumbuh menjadi remaja Masjid yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan. Rizal bersama dengan teman-teman satu kampungnya telah diajarkan beragam kebijaksanaan dari alam sekitar. Sebuah kehormatan tersendiri menjadi seorang penggembala bagi anak desa di zamannya. Lika-liku dan pahit getirnya kehidupan sudah mereka hadapi sejak dini.

Bermula dari dakwah Islam yang mulai masuk dan berkembang ditengah alam pikir keawaman warga desa, menimbulkan banyak keributan antar tokoh dan warga sekitar. Hingga ditandainya sikap kepala desa yang kian mencolok berbuat semena-mena dan selalu ingin mendapat keuntungan. Hal itu memunculkan pemberontakan dari warga untuk menggulingkan jabatan kepala desa. Apalagi suasana menjelang pilkades sangat menegangkan. Banyak beredar isu, fitnah, dan gunjingan kepada para calon maupun tokoh yang menjadi sorotan di desa tersebut.

Rizal dan teman-temannya harus memikirkan jalan keluar dan melakukan rencana untuk melindungi desa dari berbagai macam permasalahan yang menghantui desanya seperti, perbuatan para warga yang merugikan, mengantisipasi hasutan para jin kiriman kepada warga menjelang pemilihan kepala desa, dan membawa perubahan untuk Dusun Sayun kedepannya. Hingga Rizal mendapat sebuah keajaiban bisa berkomunikasi dengan pembabat Dusun Sayun yang bernama “Mbah Reseco”, dimana ia diberi petunjuk untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di desanya. Lalu, bagaimanakah nasib dari kepala desa? Siapakah pemimpin desa yang layak dijadikan sebagai kepala desa? Akankah Rizal bersama dengan bantuan teman-temannya mampu mengembalikan Dusun Sayun menjadi desa yang tentram dan makmur? Apakah perbuatan yang dipilih Rizal mampu membawa desanya menuju sebuah perubahan?

Novel berjudul “Sang Penggembala” karya Muhammad Isno El Kayyis membuat pembaca terinspirasi dan termotivasi dengan kisah tokoh Rizal. Ia adalah sosok yang pantang menyerah dalam mewujudkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Banyak sekali pembelajaran mengenai kehidupan yang bisa kita dapatkan dalam novel tersebut. Tak hanya memberi berbagai macam inspirasi bagi anak-anak desa saja dalam mengawal perubahan, namun juga untuk semua orang baik anak-anak, remaja, atau dewasa. Bahasa yang digunakan dalam novel tersebut mudah dipahami. Hal tersebut karena tidak menggunakan bahasa yang terlalu baku, tidak berbelit-belit, dan bahkan beberapa tulisan ada yang menggunakan bahasa sehari-hari. Pembaca pun tidak mudah bosan untuk membaca cerita tersebut.  Buku ini menggunakan cover dan judul yang sesuai untuk menggambarkan isi dari buku tersebut. Selain itu, cerita dari novel ini juga mudah ditebak, karena alur cerita yang digunakan adalah alur maju yang ditulis rinci dari awal peristiwa hingga akhir peristiwa. Pembaca tidak akan kesulitan dalam menguntai kata demi kata. Tak hanya itu, pembaca juga dimudahkan untuk mengambil kesimpulan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena novel tersebut berbentuk narasi life history.

Dari beberapa keunggulan novel tersebut, ternyata masih ada kekurangan di dalamnya. Meskipun beberapa kata ada yang menggunakan bahasa sehari-hari misalnya bahasa jawa, namun ada juga dari kata tersebut yang belum terdapat terjemahan katanya dan hanya dicetak miring saja. Sehingga, akan mengakibatkan pembaca yang bukan asli orang Jawa kebingungan. Selain itu, letak penulisan tanda bacanya ada yang kurang tepat, akibatnya pemahaman pembaca menjadi kurang maksimal. 

Novel “Sang Penggembala” sangat layak dibaca oleh semua orang, karena di dalamnya diungkapkan banyak hal mengenai ombak kehidupan. Nilai-nilai moral yang ada pada novel tersebut dapat kita ambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini juga memberi motivasi dan inspirasi atas semangat perjuangan dalam lika-liku kehidupan, baik diri sendiri maupun untuk lingkungan sekitar. Menjadikan setiap permasalahan sebagai awal perubahan untuk melangkah maju di masa depan.

Perensensi : Nurani Adristi Bunga N

Read More
sman3mjkrt Januari 2, 2021 0 Comments

Resensi Novel Santri Kalong

Judul buku                  : Santri Kalong

Penulis                        : M. Shoim Haris

Penerbit                       : Cupid, Yogyakarta

Tahun terbit                : Cetakan pertama, 2012

Jumlah halaman          : 316 halaman

Desain Cover              : Su’ud

Tata letak                    : Prapti

Tebal buku                  : 1,9 cm

Ukuran buku               : 14,1 x 20,1 cm

Nomor ISBN              : 979-2495-03-7

                                      978-979-2495-03-4

Meski tidak selalu menceritakan suasana kesantrian, penulis Novel ini berusaha mengambil peran santri dalam mendorong era Reformasi. Seorang Anto anak blantik sapi yang sejak lahir menderita kemiskinan menjadi saksi perjalanan sejarah bangsanya. Menjadi santri tulen (bermukin di pesantren) adalah cita-cita dirinya sendiri dan kedua orang tuanya. Karena keadaan yang serba terbatas, menjadi santri tulen adalah sebuah kemewahan yang sulit untuk digapai. Belum lagi ayahnya yang pergi untuk selamanya saat ia berusia enam tahun. Keinginan kuat yang ada dalam dirinya untuk menjadi santri tidak menghancurkan impiannya belajar di pesantren. Jadilah ia santri kalong, santri yang belajar agama tanpa menginap di pesantren.

Pengalaman dan  persahabatannya dengan Rohman (santri mukim) membuat Anto menjadi sosok yang memiliki etos tinggi sehingga menghantarkan posisi yang tinggi pula di sebuah koran ternama Surabaya. Segala rintangan batin maupun fisik dilalui dengan selalu menerapkan petuah ibunya. Pergulatan dengan dosen kritis dalam karirnya telah mengubah cara pandangnya terhadap sebuah cita-cita yang harus digengganm sebagai anak manusia. Hingga ia jatuh hati pada salah satu  gadis yang memintanya untuk dibimbing mengenai dunia jurnalistik. Lantas bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Bagaimana Anto berjuang agar ia dan ibunya terbebas dari penderitaan? Seperti apa kisah pergantian masa dari Orde Baru ke Reformasi?

       Novel ‘Santri Kalong’ cenderung membahas masalah politik di era Orde Baru dan Reformasi. Secara tidak langsung kita bisa belajar sejarah dari novel tersebut. Minimal, kita menjadi tahu peristiwa apa saja yang terjadi pada saat itu. Selain itu dalam buku ini mengajarkan betapa pentingnya sabar dan bekerja keras. Sabar akan keadaan yang diderita dan bekerja keras agar bisa keluar dari penderitaan yang menjerat dirinya. Novel ini juga menajarkan kita untuk tidak selalu melihat ke atas, dalam artian tidak merasa minder atau iri dengan pencapaian dan kesuksesan orang lain. Harus bersyukur dengan apa yang dimiliki. Karena tidak semua orang seperti kita. Bahkan ada yang ingin menjadi seperti kita. Tidak pernah merasa puas adalah sifat alami manusia.

Dari keunggulan novel tersebut, ternyata terbesit kekurangan di dalamnya. Kekurangan yang ada dalam buku ini adalah banyak menggunakan bahasa jawa. Sehingga orang yang tidak mengerti bahasa jawa akan kebingungan karena tidak ada terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk semua orang khususnya kalangan remaja. Agar mereka tahu betapa pentingnya kerja keras, tekun, dan sabar apalagi di era yang sudah lebih modern dibanding era sebelumnya

Peresensi : Nasywa Azzahra Nathaniela

Read More
sman3mjkrt Januari 2, 2021 0 Comments

Resensi Novel Bakri Sang Guru Demonstran

Judul : Bakri, Sang Guru Demonstran

Nama Pengarang : Isno el Keyyis

Nama Penerbit : CV. Pustaka Ilmu Group Yogyakarta

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman :228

ISBN: 978-602-6835-77-2

Novel ini ditulis dari pengalaman penulis bergumul dengan cerita cerita para guru tentang idealisme sebagai seorang guru. Bakri sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai sosok guru idealis yang berusaha melakukan kejujuran dan kebenaran ketika menjalani tugas sebagai guru. Seperti pada konflik pertam dalam dalam novel ini yaitu Bakri yang dikeluarkan dari sekolah tempat ia mengajar karena sebagai pengawa ujian nasional ia telah menindak siswa yang melakukan kecurangan saat mengerjakan ujian. Lalu Bakri pindah mengajar di sekolah swasta dan menemui kasus baru yaitu melawan kepala sekolah yang melakukan kesewenang-wenangan. Meskipun perjuangan Bakri berhasil, namun ia lagi-lagi dipecat. Tahap selanjutnya Bakri pindah di Madrasah Aliyah. Ia mengajar di sana bersama sahabatnya bernama Pak Anwar yang berjuang dengannya di sekolah swasta dulu. Tetapi ketika Pak Anwar memiliki kasus saat mengajar, Bakri melepas statusnya sebagai guru karena kepala sekolah di MA tersebut tidak memiliki kepedulian terhadap Pak Anwar sehingga membuat Bakri marah. Novel ini diakhiri dengan cerita Bakri yang memperjuangkan hak anak yatim ketika ia menjadi guru TPQ di desa terpencil ujung selatan Lamongan.

Kelebihan cerita dalam novel ini adalah penulis yang bisa menceritakan banyak konflik yang terjadi di dunia pendidikan secara ringkas  dari sisi seorang guru ketika mengajar. Penulis seolah menyalurkan rahasia keluh kesah para guru yang selama ini terkubur dalam hati mereka ketika mendidik muridnya dalam setiap konflik yang dialami oleh para guru dalam novel ini yang dapat menyadarkan pembacanya untuk mengetahui fakta sulitnya menjadi guru. Tokoh utama dalam cerita ini Bakri, mempunyai karakter yang kuat membuat pembaca novel ini terinspirasi untuk memiliki prinsip-prinsip seperti Bakri. Jalan cerita yang tidak membosankan juga dimiliki oleh novel ini.

Adapun beberapa kekurangan dalam novel tersebut adalah masih banyaknya kesalahan penulisan, pengetikan,  tanda baca, penulisan kalimat yang masih rumpang (seperti pada halaman V yaitu “Alhamdulilah penulis telah selesai novel pendidikan pembangunan jiwa”), dan penulisan spasi yang salah (seperti pada halaman 110). Selain itu ada beberapa istilah-istilah Jawa yang digunakan banyak yang tidak diberi keterangan sehingga  sulit dipahami oleh orang yang tidak mengerti artinya. Untuk cerita dalam novel tersebut sangat sedikit kekurangannya yaitu hanya saja ceritanya tidak memiliki ending (gantung).Selain itu  latar waktu ketika tokoh beraktivitas juga kurang jelas.

Novel ini mengangkat kumpulan cerita dan pengalaman serta konflik yang dialami oleh guru-guru ketika mengajar di sekolah dengan menyampaikan fakta-fakta kasus yang sering terjadi. Novel ini menyadarkan mata dunia tentang betapa kerasnya perjuangan seorang guru dalam melakukan tugas dan kewajibannya. Sehingga tak hanya cocok dibaca oleh guru saja, namun cocok dibaca untuk semua kalangan masyarakat. Dengan segala kelebihan yang dimilik, novel ini sangat bermanfaat bagi para pembacanya.

Perensensi

Eviolina Tiara A

Read More
sman3mjkrt Januari 2, 2021 0 Comments

Kesiapan Sekolah di Mojokerto Menyongsong Jam Tatap Muka Normal (WAWANCARA EKSLUSIVE DENGAN PENGAWAS DINAS PENDIDIKAN MOJOKERTO)

Pada senin siang (21/12/20) bertepatan diadakannya penilaian terhadap kinerja Kepala Sekolah Tim SMA N 3 Mojokerto Official mewawancarai pengawas pendidikan yaitu Drs. Arifin Subkhi, M.Si mengenai kesiapan sekolah sekolah di Mojokerto untuk jam tatap muka yang akan diberlakukan bulan Januari yang akan datang. Berikut wawancaranya.

Bagaimana kesiapan secara keseluruhan sekolah sekolah di Mojokerto untuk jam tatap muka normal yang akan diterapkan pada bulan Januari yang akan datang?

 Kebijakan Dinas Pendidikan Mojokerto untuk pembelajaran tatap muka di era new normal pada prinsipnya kebijakan itu untuk menyongsong era new normal terkait dengan pembelajaran di satuan pendidikan. Hal ini sudah tertuang dalam SKB 4 Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Kesehatan. Dimana telah dilakuan evaluasi di masa pandemi ini memang banyak permasalahan terkait dengan capaian kompetensi siswa dengan pembelajaran jarak jauh, dan dirasa pencapaian tidaklah maksimal.

Kemudian banyak sekali keluhan keluhan dari orang tua karena para siswa tidak bisa belajar dengan baik/maksimal selama dilakukannya pembelajaran daring. Oleh karena itu mengevaluasian lanjutan yang akan diserahkan pada daerah masing-masing oleh kepala daerah baik dari Gurbernur ataupun dari Bupati/Walikota dengan pertimbangan Ketua Gugus Covid-19 di daerah masing masing. Apabila dalam evaluasi tersebut telah memungkinkan untuk dilaksanakan pembelajaran tatap muka segera dilaksanakan pembelajaran tatap muka.

Disamping itu juga perlu pertimbangan dari orang tua wali murid, terlebih lagi apabila ada wali murid yang keberatan untuk mengikutsertakan anaknya dalam pembelajaran tatap muka di sekolah maka kewajiban sekolah adalah harus melayani terhadap siswa-siswi tersebut. Sebelum melakukan penilaian terhadap seluruh sekolah di Mojokerto akan kelayakan untuk menyelenggarakan kegiatan tatap muka maka diperlukan satuan pendidikan baik dari gugus Covid maupun dari pihak dinas pendidikan itu sendiri.

Apakah pembelajarannya nanti akan seperti masa masa normal, misalnya dari pagi sampai sore?

Untuk tatap muka tentu akan berbeda dengan era normal sebelumnya, seperti contoh tidak akan ada jam istirahat, menerapkan 3M, melakukan pengecekan suhu, dan pembagian jam pembelajaran siswa secara bergilir. Selain itu ternyata memang pembelajaran olah raga di lapangan telah diperbolehkan namun tidak untuk pembelajaran yang memerlukan untuk saling bersentuhan dan menyentuh alat olahraga yang sama seperti bola, namun untuk kegiatan senam telah diperbolehkan karena tidak adanya kegiatan saling menyentuh benda yang sama secara bergantian.

Kira kira tips apa yang pas buat siswa untuk sukses belajar di era daring dan tatap muka tetapi tidak seperti era normal sebelumnya?

Harus ada motivasi intrinsik yang timbul dari dalam diri para pelajar yang harus mempunyai impian atau cita-cita sehingga motivasi belajar mereka terukur dan yang tak luput juga dari dukungan bapak dan ibu guru serta dampingan dari orang tua. Karenanya diperlukan semangat yang sungguh-sungguh dan tidak patah semangat untuk memperoleh prestasi terbaik karena generasi muda adalah harapan dari para generasi tua untuk masa yang akan datang.

Terima kasih bapak atas waktu untuk wawancaranya

Sama sama. Semoga sukses

Penulis : FAIS SOEMARNO PUTRI

Read More
sman3mjkrt Desember 22, 2020 0 Comments

Siswa SMAN 3 Kota Mojokerto Ikuti Diklat Dai/Daiyah MUI Kota Mojokerto

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu oleh da’i/da’iya kembali hadir seperti di tahun sebelumnya.  Diklat calon da’i/da’iyah digelar oleh MUI Kota Mojokerto pada hari Sabtu(19/12/20) hingga minggu (20/12/20) di ruang pertemuan SMKN 1 Kota Mojokerto. Sekitar 40 peserta dari SMA/SMKN dan MA se-Kota Mojokerto mengikuti acara tersebut. Dari SMA Negeri 3 Mojokerto turut hadir Asshalah Rosyifa Tatyiana, Muhimatul Aliyah, Rahmad Amirul Muchsin, Raihan Rahmat Ramadhan dan Ummu Maslucky.

Acara ini diawali dengan sambutan dari Ketua MUI, KH. M. Rofi’I Ismail. Beliau menyampaikan bahwasannya dakwah bukan hanya tugas dari para ulama saja tapi setiap umat Islam berkewajiban mengajak kepada kebaikan sesuai dengan keadaannya masing-masing.

“Dakwah itu memiliki strategi dan metode. Kita mengenal ada tiga metode dakwah yaitu bil-Hikmah, mauidhoh hasanah, dan metode mujadalah. Masing masing diterapkan sesuai dengan keadaan atau kondisi masyarakat sekitarnya. Metode bil hikmah cocok untuk kalangan awam, dan kemungkinan besar sangat berhasil diterapkan” terang Ketua MUI Kota Mojokerto sekaligus juga Rais Syuriah PCNU Kota Mojokerto itu.

Setelah pembukaan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai ‘Manajemen Dakwah’yang disampaikan oleh Bapak Drs. H. Yusuf Hariadi, M.Kes. Beliau menerangkan bahwasannya untuk saat ini semua hal memerlukan menejemen terutama dalam berdakwah. Hal ini dilakukan agar dakwah dapat berjalan lancar tanpa adanya halangan.

Dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang membangun komitmen dakwah oleh Drs. Arifin Subkhi,  M.Si. Pengurus MUI yang juga Pengawas Pendidikan itu menyampaikan bahwasannya dakwah itu memang besar tantangannya. Dalam dakwah selain membutuhkan ketekunan juga memerlukan kesabaran yang tinggi.

Drs. KH. Sholeh Hasan menyampaikan bahwasannya keutamaan dakwah itu ada 5 yaitu pertama dakwah adalah muhimmatur rusul (tugas utama para rasul). Kedua, dakwah adalah ahsanul a’mal(amal yang terbaik). Ketiga, dakwah memiliki keutamaan yang besar karena para da’i akan memperoleh balasan yang besar dan berlipat ganda(al-hushulu’ala al-ajri al-‘azhim). Keempat, dakwah dapat menyelamatkan kita dari azab Allah Ta’ala(an-najatu minal’azab). Kelima yaitu dakwah adalah jalan menuju khairu umma artinya dakwah harus bisa mengubah masyarakat yang mendengarkan dakwah menjadi lebih baik. 

“Yang dapat kita simpulkan dari dakwah itu sendiri yaitu dakwah merupakan aktivitas menyerukan manusia kepada Allah Ta’ala” terang Ketua PCNU Kota Mojokerto itu (FAIS SUMARSONO)

Read More
sman3mjkrt Desember 20, 2020 0 Comments

Dibalik Cerita Kemenangan Tiga Jawara LKTI SMA Negeri 3 Mojokerto

Walaupun dengan persiapan yang singkat, tetapi Imam Ali Syabana, Muhammad Elvan Akmaldi Adil dan Nadya Anastasya Eka Putri mampu menorehkan juara harapa 2 pada lomba Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Radar Mojokerto.

Sesaat sebelum penganugerahan LKTI Radar Mojokerto di Sunrise, tim webste SMA Negeri 3 Mojokerto mewancarai ketiga siswa berbakat ini. Sambil memakai masker, mereka bertiga menerangkan tentang proses penulisan LKTI Radar Mojokerto.

“Saya dapat info dari bu Inuk bahwa ada lomba LKTI dari Radar Mojokerto. Kemudian kami konsultasikan beberapa objek penelitian yang akan kami angkat. Tetapi kemudian kita mantap memilih judul, optimalisasi potensi wisata religi berbasis kearifan lokal melalui metode company profile di Kelurahan Kauman Kec. Prajuritkulon Kota Mojokerto” terang Imam Ali Syabana.

Judul ini, kata Imam Ali Syabana, dilatarbelakangi rasa penasaran mereka terhadap suatu wilayah dekat Masjid Agung yang bernama Kauman. Kauman ini dipersepi sebagai wilayah yang memiliki banyak kaum berimannya.

Untuk mendukung data data penulisannya, menurut Muhammad Elvan Akmaldi, mereka membaca tulisan tulisan di jurnal ilmiah terkait penelitian yang berhubungan dengan Kauman. Selain itu, mereka juga melakukan wawancara dengan penduduk setempat.

“Kami memerlukan waktu satu minggu untuk mencari data. Selain membaca penelitian penelitian di jurnal, kami juga melakukan wawancara dengan penduduk setempat. Setelah itu, satu minggu kemudian, kami baru melakukan penulisan” terang Muhammad Elvan Akhmaldi.

Setelah naskah tulisan itu selesai, mereka kemudian mengirim naskah itu melalui email panitia lomba LKTI. Beberapa hari kemudian mereka mendapat pengumuman bila tulisan mereka masuk final.

“Alhamdulillah dari 93 naskah yang masuk, tulisan kami bisa masuk final. Dan kami bertiga diundang ke radar Mojokerto untuk mempresentasikan hasil penelitian kami. Kami sempat nervous sebab dewan jurinya orang hebat dan profesional dibidangnya” jelas Nadya Anastasya.

“Kami pun harus puas menjadi juara harapan” sahut M. Elvan,

“Mungkin salah satu kendala kami saat ikut lomba ini yaitu waktu, karena kami harus membagi waktu untuk mengikuti pembelajaran daring dan mengerjakan karya ilmiah untuk perlombaan. Tidak hanya menulis saja, kami juga harus melakukan pengamatan, penelitian, serta wawancara” imbuh M. Elvan.

“Tetapi kami siap memperbaiki dari kekurangan kekurangan ini. Dan kami berharap ke depan, apabila kami atau siswa siswa SMAGHA mengikuti lomba LKTI, bisa lebih sukses dengan menjuarai karya karya tulis lainnya” Imam menambahkan keterangannya sebelum dipanggil naik panggung. (Fais Sumarno, Isno)

Read More
sman3mjkrt Desember 7, 2020 0 Comments

Siswa SMAN 3 Peroleh Juara Harapan II LKTI Radar Mojokerto

SUNRISE – Setelah melalui proses yang panjang, pada minggu siang (06/12/20) bertempat di Sunrise Mall, Dewan Juri lomba karya tulis ilmiah memutuskan 5 pemenang dari ketagori pelajar dan 5 pemenang kategori santri dari 93 naskah yang masuk.

Menurut Gus Sadulloh Syarofi, salah satu dewan juri lomba karya tulis ilmiah, menyatakan setelah menelaah naskah karya tulis dari siswa maupun santri yang masuk, maka dewan juri yang terdiri dari Gus Sadulloh Syarofi, Khoirul Inayah, M. Nur Kholis, dan Abi Mukhlisin memutuskan pemenangnya untuk kategori pelajar adalah Juara I dari SMA Negeri 1 Dawarblandong (Sulistyowati, Azhahra Divia, Febi Diah), Juara II, SMA Negeri 1 Dawarblandong ( Shintya, Intan, Modi Edi Sabed), Juara III, SMAN 1 Kota Mojokerto (Irhamna Bintang, Dinda Ariatun, Nensy Adhi), Juara Harapan 1, SMP N 1 Ngoro (Bangun Adi M), Juara Harapan II ( Imam Ali, M Elvan, Nadya Anastasya). Sedang untuk pemenang kategori santri, juara I diperoleh oleh PP. Miftahul Qulub Gondang, Juara II PP. Amanatul Ummah, Juara III PP. Nurul Islam Pungging, Juara Harapan I PP. Husnul Hidayah Gondang, dan Juara Harapan II PP. Al Multazam 2.

Penyelenggaraan lomba LKTI ini, menurut M. Nur Kholis, Direktur Radar Mojokerto, sebagai bentuk dari fungsi pers yakni sebagai sarana pendidikan. Tetapi ide dari lomba ini sebenarnya berasal dari keinginan Gus Fahmi, founder Loods Coffee, yang memiliki keinginan untuk menyelenggarakan lomba LKTI di Mojokerto,

“Kegiatan ini berawal dari ide Gus Fahmi yang punya keinginan untuk menyelenggarakan LKTI di Mojokerto. Akhinya kita komunikasikan ke beberapa pihak, dan alhamdulillah selain radar, juga IPNU IPPNU, LP. Maarfi, Sunrise dan lain lain yang turut membantu terselenggaranya lomba ini” kata M. Nur Kholis pada saat sambutan atas nama panitia penyelenggara.

Drs. H. Nur Rohmat, Kasi Ponten Kemenag Kabupaten Mojokerto mengucapkan terima kasih atas diselenggarakannya lomba LKTI yang diselenggarakan oleh Radar Mojokerto. “Terima kasih kepada Radar Mojokerto dan semua pendukungnya yang telah menyelenggarakan support kepada generasi milineal dalam memacu prestasi khususnya dalam LKTI. Ke depan, kami berharap, lomba ini tidak berhenti disini saja, tetapi bisa dilanjutkan terus” tukas Drs. H. Nur Rohmat yang juga merupakan Ketua DMI Kab. Mojokerto itu.

Acara penganugerahan itu kemudian ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang yang hadir memenuhi kursi undangan. Tim Siswa SMA Negeri 3 Mojokerto yang mengikuti LKTI ini pun turut naik diatas panggung. Dengan didampingi oleh Zainal Abidin S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah, Tim SMA Negeri 3 Mojokerto menerima penghargaan sebagai Juara Harapan 2.

Read More
sman3mjkrt Desember 6, 2020 0 Comments

Sensei Eli itu bernama Dra. Elizabeth Cornelia Lilik Nur wulan Pudji Astutik

Siapa diantara siswa dan alumni SMAGHA yang tidak tahu Sensei Eli? Hampir semua mengingat namanya. Entah karena keramah tamahannya atau karena “kepeduliannya”? Atau karena pembelajarannya yang selalu menuntut siswa untuk menghafal kosa kata Jepang dengan suara keras. Atau juga mengajarkan budaya baik dari Jepang seperti tata krama murid telat masuk kelas wajib mengetuk pintu  dan mengatakan “sensei osokunatte sumimassen”.

Sensei Eli memiliki nama lengkap Dra. Elizabeth Cornelia Lilik Nur wulan Pudji Astutik. Beliau lahir di Sumenep, 6 Juli 1959. Sensei Eli  anak ke 9 dari 9 saudara. Pekerjaan ayahnya, sebagai pegawai pegadaian dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

Sensei Eli menempuh pendidikan dasarnya di SD Krajan yang sekarang menjadi SD Teladan 1 hingga tahun 1976. Setelah tamat, beliau melanjutkan ke SMP Katolik Yustinus Deakobus hingga tahun 1979. Setelah itu melanjutkan ke SMA Katolik Untung Suropati (Krian) hingga tahun 1981.

Sebelum beliau memasuki dunia perkuliahan tidak ada rencana untuk masuk ke Jurusan Bahasa Jepang, tetapi berkat arahan kakaknya, akhirnya Sensei Eli mengambil jurusan bahasa Jepang. Pengambilan Jurusan Bahasa Jepang itu, dilatarbelakangi informasi bahwa jurusan tersebut masih awal pembukaan di Fakultas Pendidikan Bahasa, Sastra dan Seni IKIP Surabaya. Kemungkinan besar, bila jurusan itu dipilih, Sensei Eli akan mudah diterima.

Dan benarlah prediksi itu, akhirnya Sensei Eli diterima di IKIP Surabaya. Dan dapat menyelesaikan kuliahnya tahun 1986 meskipun dengan berbagai rintangan yang menghalanginya. Seperti belajar bahasa Jepang dari dasar hingga tingkat mahir. Sensei Eli menyatakan, untuk belajar bahasa Jepang dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Bila tidak maka akan jatuh ditengah jalan. Seperti yang dialami teman teman seangkatannya. Dari 65 mahasiswa yang terdaftar, tinggal 30 mahasiswa yang masih bertahan hingga wisuda.

Sensei Eli memulai perjalanan kariernya saat masih menempati bangku Sekolah Menengah Atas yakni menjadi tenaga kependidikan di Sekolah Dasar Katolik (Krian) pada tahun 1979-1980, setelah  mengakhiri pendidikan Strata 1 beliau menjadi guru Bahasa Jepang di SMA Katolik Unsur Gama pada tahun 1986-1987. Pada tahun 1987, Sensei Eli menerima surat keputusan sebagai guru bahasa Jepang di SMA Negeri 1 Sidoarjo, dan pada tahun 1989 mutasi ke SMA Negeri 4 Mojokerto (Yang sekarang menjadi SMAN 3 Mojokerto).

Di SMA Negeri 3 Mojokerto, Sensei Eli mengajar bahasa Jepang hingga pensiun pada tahun 2019. Dikarenakan SMA Negeri 3 Mojokerto masih membutuhkan tenaganya untuk mengajar bahasa Jepang, maka beliau diminta mengajar hingga satu tahun berikutnya. Sembari mengajar Bahasa Jepang, Sensei Eli  juga mengajar Pendidikan Agama Katolik selama 9 jam.

Pada hari guru ini, Sensei Eli berpesan kepada semua guru, untuk terus belajar. Sebab pada saat pandemi ini, guru dituntut kreatif seperti siswanya. Yakni menguasai IT yang terus berkembang. Dan Sensei Eli berpesan kepada semua muridnya, untuk belajar bertanggungjawab terhadap tugas tugas yang diberikan oleh gurunya tanpa keluh kesah. (Putri)

Read More
sman3mjkrt November 24, 2020 0 Comments